Tukang Galon Tak Kuat Ingin Menyetubuhi Tante Girang

Tukang Galon Tak Kuat Ingin Menyetubuhi Tante Mulus

Cerita Dewasa Terbaru – Beberapa bulan terakhir, jujur saja, kepala aku dipenuhi imaji liar tentang Bu Arini. Dia adalah salah satu pelanggan setia jasa antar air minumku. Dia tinggal di kompleks elit sebelah, Green Vista, sementara aku punya Depot Air Bening di Jalan Merpati.

Aku, Radit, usianya sudah 36 tahun. Bu Arini, kurasa umurnya tidak jauh beda denganku, mungkin sebaya atau dua tahun di bawahku. Dia ibu satu anak. Meski sudah jadi emak-emak, sumpah mati, pesonanya itu edan.

Rasa gila ini bermula pada suatu Jumat pagi yang cerah. Waktu itu aku mengantar galon pesanannya. Aku ingat betul, dia memanduku ke arah dapurnya. Pakaiannya? Celana dalaman (celana tipis transparan selutut) itu brengsek sekali. Jelas banget celana dalamnya, dan bentuk puncak kenikmatan tebalnya itu tercetak nyata di hadapanku.

“Anjing… pagi-pagi rudal aku udah siap tempur duluan. Libido aku emang selalu tinggi kalau pagi,” gerutu aku dalam hati, sedikit misuh-misuh.

“Angkat, Kang! Cepetan!” perintahnya dengan suara agak serak, membuyarkan khayalan mesumku.

“Angkat apanya, Bu? Mau angkat yang mana???” jawab aku ngasal dan ngaco. Otakku sudah terkontaminasi oleh pemandangan surga di depan mata.

“Ya galonnya lah, Kang! Angkat ke dispenser! Emang mau angkat apalagi coba???” katanya sambil menyunggingkan senyum tipis. Bibirnya yang montok itu terlihat menggoda.

Sejak saat itu, aku menyimpan dendam rindu pada wanita itu. Aku harus jujur, kerinduan ini bukan rasa cinta, melainkan kerinduan gairah yang membara.

Setiap aku antar air ke rumahnya, mataku pasti enggak pernah lepas dari tubuhnya. Penyangga gairah di dadanya tidak terlalu besar, tapi bulat, padat, menantang di balik baju tipisnya. Pinggulnya yang lebar membuat pantatnya terlihat tebal dan berisi, asyik buat digenggam. Kulit punggung tangannya saja sudah putih bersih, aku yakin, serambi lempitnya pasti jauh lebih mulus lagi.

Karena obsesi aku terlalu kuat, aku sampai mengamalkan mantera aneh yang aku dapat dari internet, mantera mimpi basah: “Niat ingsun kirim mimpen tujuh layaran ning hatine Bu Arini binti Fulan… Blablabla…” Aku baca tiga kali sambil membayangkan wajahnya, lalu aku kepruk bantal tiga kali. Ajaibnya, besok paginya aku sering menemukan dia dalam keadaan basah kuyup seperti baru selesai mandi besar. Aku enggak tau pasti, apakah dia habis mimpi nganu denganku, atau karena hal lain.

Tapi yang pasti, sejak mantera itu aku amalkan, dia jadi punya banyak alasan untuk menahanku. “Buruan amat, Kang? Ngopi dulu lah!” atau, “Kang, tolong benerin keran bocor ini dong!” “Tolong sekalian pasangin gas ya, Kang!” Dia juga sering melontarkan pertanyaan pribadi yang singkat. Dan tatapan matanya, sial, itu yang paling berkesan, seperti menyimpan rasa yang dalam.

Alhasil, aku dan Bu Arini kini makin dekat. Bukan lagi sekadar hubungan penjual-pembeli. Kami sering curhat atau sekadar ngobrol singkat yang berisi. Berisi, karena dari obrolan itu, aku jadi tau kalau dia tidak mencintai suaminya. Lewat obrolan itu, aku makin kenal dia, dan dia pun sebaliknya.

### Scene Baru 1: Ngopi di Teras Depan

Pernah satu kali, sekitar dua minggu setelah insiden celana dalaman itu, aku selesai menaruh galon dan dia menahan aku.

“Kang, duduk dulu sebentar. Aku bikinin kopi spesial,” ajaknya sambil memegang lenganku. Sentuhan itu, brengsek, membuat seluruh bulu kudukku berdiri.

“Aduh, enggak usah repot-repot, Bu. Masih ada antrian nih,” tolak aku basa-basi, padahal di hati teriak keras, “MAU! MAU! DUDUK SINI AJA!”

“Sialan, sok sibuk! Palingan juga sambil ngopi di warung sebelah. Udah, sini. Sebentar aja,” dia memaksa. Akhirnya aku menyerah. Dia membawakan dua cangkir kopi hitam dan pisang goreng hangat.

Kami duduk di teras depan, dekat kolam ikan koi. Matahari sudah mulai meninggi, sekitar pukul 10.30 WIB.

“Suami Ibu… kerjanya di mana sih, Bu?” tanya aku, mencoba membuka obrolan yang lebih intim.

Dia menghela napas, “Huft!” (Bunyi napas berat) “Ah, dia mah kerja di luar kota, Kang. Pelayaran. Pulang paling cepat tiga bulan sekali. Kadang bisa sampai enam bulan. Buat apa punya suami kalau di rumah sendirian terus,” jawabnya, nadanya penuh kesepian.

Jantungku langsung berdebar. “Deg-deg-deg!” (Bunyi jantung berdebar) Sial, ini lampu hijau yang terpasang di tiang listrik, jelas banget.

“Kasihan atuh, Bu. Kebutuhan lahir batin-nya gimana?” aku mencoba memancing dengan pertanyaan yang agak kurang ajar.

Bu Arini menatap aku. Matanya tajam dan menggoda. “PLAK!” Dia menepuk pahaku pelan, tapi cukup keras untuk membuat aku terkesiap. “Dasar mesum! Enggak usah nanya yang aneh-aneh! Nih, coba pisangnya, enak banget!” katanya, tapi ada rona merah di pipinya.

“Hehe… maaf, Bu. Aku kan cuma nanya,” kata aku, berusaha sopan tapi tetap nakal.

“Enggak usah sok lembut pakai aku-aku, Kang. Aku tau kamu gimana kalau lagi sendiri. Dasar tukang antar air cabul!” Dia tertawa genit. “Hehehe!” (Bunyi tawa genit)

Astaga, dia tau aku mikirin dia. Mampus.

“Ah, Ibu mah suka nebak yang enggak enggak!”

“Tuh lihat, Kang. Matanya enggak pernah lepas dari payudara aku,” katanya sambil mengambil kopi dan sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat belahan dadunya terlihat semakin jelas di balik daster tipis.

Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan ke kolam koi. “Deg-deg-deg!” (Bunyi jantung berdebar keras) Aku benar-benar gugup.

“Aku enggak tahu ya, Kang, kalau di rumah ini cuma ada aku sama anak aku. Suami aku enggak pernah tau apa yang aku lakuin,” bisiknya pelan, sambil menggesekkan kakinya ke kakiku di bawah meja.

Sialan, rudal aku sudah berdiri siap gempur di balik celana bahan aku. “Shhhk!” (Bunyi kain celana bergesek)

“Aku… aku harus pergi, Bu. Udah siang,” kata aku, panik, langsung berdiri.

“Yahhh… cepat amat,” dia cemberut. “Ya udah, ati-ati di jalan, Kang. Jangan lupa manteranya ya!” katanya, sambil tertawa cekikikan. “Hahahaha!” (Bunyi tawa cekikikan)

Brengsek, dia tau tentang mantera itu?! Aku cuma bisa melongo dan buru-buru menyambar kunci motor.

### Scene Baru 2: Kebetulan di Pasar

Sekitar seminggu kemudian, hari Minggu pagi, aku sedang di pasar tradisional dekat rumah aku. Aku lagi cari ikan segar buat lauk. Tiba-tiba, aku dengar suara yang familiar.

“Eh, Kang Radit? Ngapain di sini?”

“Jeng!” (Bunyi kaget) Aku menoleh.

Itu Bu Arini. Dia pakai celana training ketat dan kaus oblong longgar, tapi tetap enggak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya.

“Eh, Bu Arini. Aku lagi belanja buat masak, Bu. Ibu ngapain di pasar kampung ini?” tanya aku.

“Aku lagi cari ikan teri medan yang fresh. Biasanya di sini yang paling enak. Duh, aku enggak nyangka ketemu kamu di sini, Kang!” katanya sambil tersenyum lebar.

“Mau aku bantuin milihin ikannya, Bu?” tawar aku.

“Boleh banget! Nih, coba pegangin kantong belanja aku,” katanya sambil memberikan kantong yang isinya sudah penuh.

Saat memilih teri, kami berdesakan. “Duk!” (Bunyi tubuh beradu) Kepalaku enggak sengaja menyenggol penyangga gairahnya. Mulus dan padat.

“Aduh, maaf, Bu. Enggak sengaja,” kata aku, gugup setengah mati.

“Enggak apa-apa, Kang. Aku tau kamu enggak sengaja, tapi kenapa enggak diterusin aja nyenggolnya?” bisiknya, suaranya serak dan menggoda.

“Kretek!” (Bunyi tulang punggung bergidik) Sialan, wanita ini benar-benar terlalu terbuka. Aku enggak kuat menahan diri.

“Ibu… ngomong apa sih? Aku kan sudah nikah, Bu,” kata aku, mencoba mengingatkan diri sendiri tentang istriku yang alim di rumah.

“Halah! Memangnya kalau sudah nikah, enggak boleh ngrasain yang segar-segar?” dia tertawa, terlalu keras. “Hahahaha!” (Bunyi tawa menggoda)

Setelah selesai belanja, dia mengajak aku sarapan. “Yuk, sarapan bubur ayam, Kang!”

“Aku enggak enak, Bu. Aku kan mau cepat-cepat pulang,” tolak aku lagi.

“Dasar sok alim! Kalau aku yang traktir, enggak usah sok malu!” katanya, lalu menarik lengan aku menuju warung bubur.

Selama sarapan, Bu Arini terus menceritakan betapa kesepiannya dia. Dia butuh teman untuk ngobrol. Dia butuh sentuhan.

“Kang, kamu tau enggak? Aku enggak ngerasa jadi perempuan sejak nikah sama suamiku. Dia enggak pernah peduli sama kebutuhan biologis aku. Aku butuh kehangatan, Kang,” katanya, suaranya pelan dan bergetar.

Aku enggak bisa berkata-kata. “Glek!” (Bunyi menelan ludah)

“Aku… aku enggak tau harus ngomong apa, Bu,” kata aku.

“Udah lah, enggak usah dipikirin! Makan buburnya!”

### Puncak Gairah: Hari Ini

Kemarin pagi, seperti biasa aku mengantar air ke rumahnya. Tapi kali ini, aku enggak perlu menunggu dia keluar. Aku lihat pintu depan terbuka lebar, enggak seperti biasanya. Karena aku sudah familier dengan rumah ini, aku langsung masuk saja.

Langkah aku terhenti. “Srett!” (Bunyi sepatu berhenti tiba-tiba) “DEG!” (Bunyi kaget)

Galon air di tanganku hampir terlempar. Aku dengar pekikan seorang perempuan di pojok ruang tengah.

Wajah perempuan itu enggak asing, Bu Arini. Tapi, dua gundukan padat yang menggelantung di dadanya itu yang membuat aku terkesima. Mataku enggak bisa berkedip. Dia sedang mencoba memakai pakaian dalam.

Penyangga gairahnya memang enggak besar, tapi bulat, padat, berisi. Ukurannya mungkin sekitar 32C. Di ujungnya, putingnya yang besar dan kemerahan terlihat menantang.

“Ma… maaf, Bu Arini…” kata aku, gugup. Mataku enggak lepas dari pemandangan surgawi itu.

Dia menjawab dengan santai, “Ya udah, enggak apa-apa, Kang. Aku juga lagi tanggung abisnya. Udah terlanjur kelihatan,” katanya, sambil menggerak-gerakkan kakinya, membetulkan posisi celana dalam yang baru saja dia kenakan.

Serambi lempitnya itu! Putih banget. Pahanya tebal dan berisi. Gundukan nikmat di balik celana dalam hitamnya itu, tebalnya keterlaluan, sampai tercetak jelas.

Perlahan, aku rasakan rudal aku menggeliat, bangun dari tidurnya. “Uhhhh…” (Bunyi erangan kecil)

“Hei… udah sana, Kang, terusin ke dapurnya. Malah bengong gitu,” katanya, sambil berusaha mengaitkan BH hitamnya.

“Ta… Tapi…” Belum selesai aku bicara, dia sudah menyela, “Udah! Enggak apa-apa, Kang. Kayak sama orang baru kenal aja. Enggak usah dibantu. Aku bisa dan biasa makai pakaian sendiri tiap habis mandi. Udah, taruh galonnya di dispenser sana. Kalau kelamaan, entar aku malu,” katanya, nada suaranya sedikit malu, tapi menggoda.

Tanpa menunggu dua kali instruksi, aku langsung berlari kecil ke dapur. Tujuanku cuma satu: secepatnya kembali ke ruang tengah ini untuk menyaksikan pemandangan indah dari tubuh padat mungil Bu Arini.

Tapi sayang, wanita itu kini sudah berpindah posisi. Dia duduk di kursi tamu, mengusap-usap rambutnya dengan handuk. Mataku terus mencari gundukan nikmat yang kini tertutup celana dalaman merah dan celana pendek hitam.

“Habis mandi basah, Bu Arini?” goda aku, sambil menjatuhkan pantat di seberang kursi yang dia duduki.

“Tau nih, Kang. Semalam habis mimpi enak sama orang, tapi sayang, bukan sama suamiku,” jawabnya, matanya menatap aku lekat.

“Katanya enggak cinta, tapi ngarepin mimpi sama suaminya sih?” jawab aku spontan.

Dia hanya mencibir genit sambil mencubit pinggang aku, lalu berlalu meninggalkan aku ke dalam kamar. “Aww!” (Bunyi terkejut/sakit ringan)

Astaga. Ini adalah saat yang tepat untuk menggoda dan merayu dia, untuk bisa menikmati tubuh yang selama ini hanya aku bayangkan.

Tapi, keberanianku hilang sejak aku menikah dua tahun lalu. Padahal, saat aku masih bujang, aku ini lihai menggoda dan merayu wanita. Di momen ini, aku bisa banget mengikutinya ke kamar, menyergap, memeluk, mencumbu, dan akhirnya menggempur tubuh mulus itu. Apalagi, lampu hijau sudah dia nyalakan, tanda dia membuka diri untuk aku nikmati.

Aku ingat lagi insiden di dapur sempit, ukurannya cuma 1 x 2,5 meter. Saat aku mau mengangkat galon, dan dia sedang mencuci piring, aku terpaksa harus melewati tubuhnya dengan merapat banget. Saat itu, rudal aku menyenggol pantatnya yang bergoyang seirama dengan gerakan tangannya mencuci piring.

Aku enggak meneruskan langkah aku. Aku rasakan dia menggesek-gesekkan pantatnya ke rudal aku sambil berkata, “Sempiiiit atuhhh… tapi lumayan ya?”

Sial! Kemarin pagi, keberanian aku hilang. Padahal di rumah ini hanya ada kami berdua; anaknya sekolah, suaminya kerja. Dan, aku yakin Bu Arini sudah menanti aku di dalam kamar sana.

### Scene Baru 3: Langkah Berani

Aku duduk termangu. “Huft!” (Bunyi napas berat)

Sialan! Kalau aku enggak ngambil kesempatan ini, aku bakal menyesal seumur hidup. Ini kesempatan emas!

Aku memutuskan. Tolol amat aku enggak ngambil ini! Aku harus berani! Aku bangkit, berjalan perlahan ke arah kamar Bu Arini. Jantung aku berdegup kencang. “Dug! Dug! Dug!” (Bunyi jantung lebih kencang)

Pintu kamarnya sedikit terbuka. Aku intip. “Gasp!” (Bunyi napas tertahan)

Bu Arini sedang berdiri di depan cermin. Dia baru selesai memakai celana pendeknya, dan sekarang dia telanjang dada! Dia sedang mengeringkan penyangga gairahnya dengan handuk kecil.

Aku enggak bisa menahan diri lagi. Aku dorong pintu itu perlahan. “Ckiiittt!” (Bunyi pintu berderit pelan)

Dia menoleh. Matanya terkejut, tapi tersenyum.

“Kang Radit… ngapain di sini?” tanyanya, suaranya bergetar.

Aku melangkah masuk dan mengunci pintu dari dalam. “Klek!” (Bunyi kunci diputar)

Dia enggak bergerak. Dia hanya menatap aku.

“Aku tahu Ibu ngarepin aku ada di sini,” kata aku, suara aku serak.

“Enggak tau ah! Sana keluar!” katanya, tapi dia enggak mengusir aku.

Aku berjalan cepat ke arahnya. “Srett! Srett!” (Bunyi langkah kaki)

Aku meraih pinggangnya dan menariknya ke dalam pelukanku. “Grepp!” (Bunyi pelukan erat)

“Aku enggak kuat lagi, Bu Arini,” bisik aku di telinganya.

“Aku… aku juga… Kang Radit…” jawabnya, lalu dia melingkarkan tangannya di leher aku.

“Cuppp!” (Bunyi ciuman basah) Aku mencium bibirnya yang montok, rakus dan panas. Dia membalas ciuman aku dengan gairah yang sama. Lidah kami beradu dengan liar. “Slorpp! Slorpp!” (Bunyi ciuman rakus)

Aku mengangkat tubuhnya. Kakinya melingkari pinggangku. Aku menghimpitnya ke dinding. “Brakk!” (Bunyi tubuh menabrak dinding)

“Kita habisin rasa rindu ini, Bu Arini,” kata aku, sambil meremas penyangga gairahnya yang padat.

“Aduhh… sialan… enak… Kang Radit…” erangnya, matanya terpejam. “Ahhh…” (Bunyi erangan panjang)

Aku membawanya ke ranjang. “Buk!” (Bunyi tubuh jatuh di kasur)

Aku melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuhku. Rudal aku sudah keras dan siap.

Dia menatap rudal aku. Matanya berkilauan.

“Besar banget, Kang…” bisiknya, lalu mengambil rudal aku ke dalam tangannya. “Heeh!” (Bunyi napas tertahan)

Aku meraih celana pendek dan celana dalam dia. “Srrtt! Srrtt!” (Bunyi kain robek, atau tarikan cepat)

Serambi lempitnya yang putih itu terbuka di hadapan aku. Basah dan mengundang. “Duh!” (Bunyi kejutan)

Aku mencium seluruh tubuhnya, mulai dari leher, dada, perut, sampai ke puncak kenikmatannya.

“Gasp… gelii… enakk…” dia melenguh. “Ahhh… Ahhh!” (Bunyi erangan kenikmatan)

Aku mendekatkan rudal aku ke serambi lempitnya.

“Aku enggak kuat lagi, Bu Arini…” Bisik aku.

“Masukin, Kang! Cepat!” perintahnya. “Jlebbb!” (Bunyi rudal masuk)

“Aaaaaahhhhh!” (Bunyi erangan klimaks Bu Arini)

“Dum! Dum! Dum!” (Bunyi hentakan di kasur)

Aku menggempur dia dengan liar, menghabisi rasa dendam rindu aku selama ini. Dia membalas dengan hentakan pinggul yang sama kuatnya.

“Ough! Ough! Ough!” (Bunyi napas terengah-engah)

Kami bercinta hingga kehabisan napas, melupakan waktu dan keadaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *