
Cerita Dewasa Terbaru – Aku, Anya, sedang membereskan taman belakang di vila Pak Bayu di Puncak, Bogor. Udara sejuk dan kabut tipis membuat pikiran aku agak melayang. Ponsel aku bergetar. Sebuah pesan dari Pak Bayu masuk.
“Apa kabarnya, Sayang.”
Aku tersenyum tipis. “Aku baik-baik aja, Pak. Bapak sendiri gimana?” balasku.
“Kangen berat ni sama kamu, Anya.”
“Kangen sama aku atau pengen ‘adu jago’ sama aku lagi,” jawabku to the point.
“Ya dua-duanya lah. Aku mau bikin pesta kecil-kecilan malam ini. Spesial buat kamu. Mau enggak kalau kamu jadi ‘Ratu’-nya dan ‘digilir’ tiga ‘ksatria’ gantian.”
Aku membaca kata-kata itu. Digilir tiga lelaki gantian. Astaga, aku merinding sendiri.
“Kenapa enggak ajak Bu Ratna, Pak? Kemarin kan Bapak sempat ‘main’ bareng beliau.”
“Kali ini khusus kamu, Anya. Lebih menantang. Kamu mau, kan?”
“Aku sih mau aja, Pak. Tapi… Bapak udah bilang ke Bu Ratna, kan.”
“Sudah, Sayang. Dia bahkan cuma bilang, ‘Sana, nikmatin aja, kasihan si Anya sudah lama enggak ‘olahraga’ berat.’”
“Waduh, Bu Ratna… baik banget, ya. Dia enggak pengen ikutan juga, Pak?”
“Dia sih ngarep, tapi aku bilang, ‘Kan ada suaminya, Biar Anya aja yang masih ‘segar’ ini.’ Gimana, Ratu.”
“Oke, kalau gitu aku pasrah aja, Pak. Mau diapain juga terserah Bapak. Aku ikutan ‘Pesta Sensasi’ Bapak!”
“Mantap! Nanti malam, di kamar utama. Jam delapan. Siap-siap, ya, pakai yang paling seksi. Aku akan jadi orang pertama yang nikmatin kamu, dan terakhir.”
Aku menghela napas. Fiuuh! Malam ini aku akan “kerja” keras.
Sorenya, aku berdandan dan berpamitan ke Bu Ratna. “Bu, aku izin ke rumah teman sebentar, ya.”
Bu Ratna hanya tersenyum menggoda. “Selamat bersenang-senang, Anya. Jangan lupa bawa oleh-oleh cerita!”
Aku memasuki kamar utama. Wangi aromaterapi dan cahaya temaram. Pak Bayu sudah menunggu, hanya dibalut jubah mandi.
“Teman-teman Bapak yang lain mana?” tanya aku.
“Mereka nanti menyusul, Sayang. Aku dulu yang ambil jatah pertama dan… terakhir,” katanya sambil tersenyum licik.
“Kenapa terakhir lagi, Pak?”
“Setelah mereka puas ‘menjelajah’ kamu, mereka pulang. Aku kembali untuk ‘menjelajah’ kamu lagi sampai kamu benar-benar ‘lemas tak berdaya’!”
Deg! Aku menelan ludah. Perut aku mendadak mulas, campur antara takut dan bergairah.
Pak Bayu menarik aku ke ranjang. Dia mulai mencium aku, kecupan lembut yang cepat berubah menjadi lumatan bibir yang panas. Mmuach! Mmmhh!
Kami bergumul di ranjang. Tangannya menyusup ke dalam t-shirt aku, meremas kedua ‘bola kehidupan’ aku. Aahh… aku mendesah. Dia menyibakkan baju aku, lidahnya yang hangat menjilati ‘ujung kemerahan’ aku. Dia menghisap dan meremas ‘bola kehidupan’ aku tanpa ampun.
Setelah puas dengan bagian atas, tangannya merayap ke bawah, mengelus-elus area sensitif aku yang hanya tertutup g-string.
“CD-nya seksi banget, Anya. Kayak jaring laba-laba.”
“Iya, Pak. Dikasih Bu Ratna, katanya kalau mau ‘main’ sama Bapak harus pakai ini. Bapak… terangsang enggak lihatnya.”
“Lihat kamu pakai baju lengkap aja aku sudah enggak sabar, apalagi cuma begini. Malam ini, aku akan ‘menghabisimu’!”
Pak Bayu membuka semua pakaian aku. Dia kembali menikmati ‘bola kehidupan’ aku, perlahan mulutnya turun, mengecup gundukan di antara paha aku sambil menarik turun g-string aku.
Dia membuka kedua paha aku dan mulai mengecup ‘serambi lempit’ aku. Lidahnya menjilati, membelai, dan berputar.
Ssluurrp! Aahh… Pak… Nnggghh… enakkk… Pak!
Tubuh aku bergetar hebat. Pak Bayu berlutuk di lantai. Dia mengulum ‘serambi lempit’ aku. Tak lama kemudian, dia meletakkan kedua kaki aku di bahunya dan kembali ‘menjelajahi’ aku dengan lidahnya.
Ssshh… sshh… aaahh! Aku kelojotan, kepuasan yang meledak-ledak. “Ohh… Pak… nikmat sekali… Gigit, Pak, pliiiisss… gigittt! Auuwww… pelan ya gigitnya!”
Satu tangan aku mencengkeram kepalanya, tangan yang lain meremas ‘bola kehidupan’ aku sendiri, memilin ‘ujung kemerahan’ yang sudah tegang.
Kami bertukar posisi. Aku yang berlutut di lantai. Aku melepaskan celana dalamnya. ‘Rudal’ Pak Bayu yang besar terpampang jelas.
“Ih, gedenya, Pak! Kayaknya makin gede ya sekarang.”
“Ah, itu cuma perasaan kamu aja. Fokus, Sayang, fokus,” katanya sambil mendesah tertahan.
Aku langsung mengulum ‘rudal’ Pak Bayu. Kepala aku naik-turun. Tangan aku mengocok ‘batangnya’. Sesekali aku menjilatinya, seperti menikmati es krim. Sluuuurp… Ssshh…
Gerakan aku memberikan sensasi luar biasa. Aaahh… aagghh… terus, Nez! Ohh… enak sekali! desah Pak Bayu.
“Ohh… Nez… aku enggak tahan… Masukin, Nez!” pintanya.
Aku menyudahi lumatannya dan beranjak ke atas ranjang, berlutut, dengan pinggul Pak Bayu di antara paha aku. Aku meraih ‘rudal’ besarnya, mengarahkannya ke ‘mulut serambi lempit’ aku, dan… Jleb! aku membenamkannya.
Aaaagghh! Kami melenguh panjang, menikmati gesekan pertama. Aku mulai menggerakkan pinggul aku maju-mundur. Pak Bayu menggeliat. ‘Rudal’ kerasnya menggaruk ‘benteng’ aku dari dalam.
“Ssshh… sshh… Oohh… Mmphh”
“Nggghh… Aaah… Plekk.. Plekk.. Plekk”
Setelah beberapa saat, Pak Bayu mengubah posisi. Aku dibaringkan. Dia merangkak naik. ‘Rudal’ besarnya masih tegang. Dia menopang tubuhnya, menggesekkan ujung ‘rudal’nya di ‘serambi lempit’ aku. Oohh… aahh… aku mendesah.
“Kamu siap, Sayang? Kita tancap gas sekarang!”
Pak Bayu langsung menekan pinggulnya. Ujung ‘rudal’nya tenggelam. Aakhh… Pak… eengghh! Aku mengerang cukup keras. Dia merunduk, melumat ‘bola kehidupan’ aku dengan rakus sambil terus menggerakkan pinggulnya.
“Teruss… Pak… enak banget… Ohh… Isap yang kerasss, Pak!” aku meracau.
“Aku suka banget ‘bola kehidupan’ kamu, Nez… mmmhh…”
“Kecil gitu kok suka sih, Pak… Isap teruss… Aaahh!” Aku membusungkan dada, memudahkannya.
Pak Bayu menindih aku, memeluk, dan melumat mulut, leher, dan telinga aku. Ngekk.. ngekk.. (suara rudal masuk). Dia menekan pinggulnya lagi. Seluruh ‘rudal’ Pak Bayu terbenam. Auuwww… Pak! desah aku.
Setelah beberapa saat diam, dia mulai menggerakkan pinggulnya memutar perlahan. Jlebb.. Srottt.. Jlebb..
“Uhh… ohh… Pak!” Aku membuka kaki lebih lebar.
Pak Bayu mempercepat gerakan pinggulnya. Agghh… ohh… terus, Pak! aku meracau, merasakan ‘rudal’nya berputar di dalam aku. Kepala aku tengadah, pinggul aku turut bergoyang. Jlebb.. Jlebb.. Jlebb..
“Enaak, Nez… terus goyang… uhh… eenngghh!”
“Ahh… aahh… Pak… teruss… Pak!” pekik aku.
Kami semakin liar. Keringat membanjiri tubuh aku.
“Pak… tekan, Pak… uuhh… aku mau ke… kelu… aarrgghh!”
Pak Bayu menekan pinggulnya dalam-dalam. Jleeebbb! Tubuh kami mengejang bersamaan. Aku merasakan ‘cairan hangat’nya menyembur di dalam ‘benteng’ aku. Srooottt… Srooottt!
Gema erangan kepuasan memenuhi kamar. Kami terkulai lemas.
“Nez, nikmat banget ‘berburu’ sama kamu. Setelah ini, giliran teman-temanku, ya. Aku mau pergi dulu. Nanti menjelang subuh, aku balik lagi buat ‘berburu’ kamu lagi, ya.”
Aku cuma mengangguk lemas. Fyuuuh, aku harus kerja keras banget malam ini. Aku pun tertidur.
Aku terbangun karena ranjang berderit. Om Dito dan Om Edo sudah datang.
Om Edo duduk di sebelah aku. Dia memeluk bahu aku. “Nez, kita ‘olahraga’ yuk,” bisiknya sambil meremas pundak aku. Haaahh (nafas Om Edo). Remasan dan nafasnya membuat bulu kuduk aku meremang.
Om Edo menarik tangan aku, meletakkannya di paha dia. Aku tanpa sadar meremas paha dia yang keras.
“Remas paha aku, Nez. Enak, kan,” bisiknya lagi.
Om Edo memindahkan tangannya ke atas paha aku, makin lama makin naik, menyentuh paha dalam aku. Rasa geli yang enak timbul.
“Nez, aku suka banget lihat leher sama pundak kamu,” bisiknya sambil mengecup pundak aku.
Kecupan itu terus naik ke leher dan daun telinga aku. Haaahh… Ngek.. Ngek.. (Suara lidah menjilat). “Om… ahh…” desah aku tak tertahankan.
“Santai aja, Ratu,” bisiknya, menjilati daun telinga aku. “Ohh, Om…” aku mendesah.
Om Dito, yang sedari tadi menonton, tidak tinggal diam. Dia duduk di sebelah aku yang lain. Pundak, leher, dan telinga kiri aku jadi sasarannya. Jlebb.. Jlebb.. Sluuurrp.. (suara lidah).
Mereka semakin agresif. Tangan Om Edo menyentuh ‘serambi lempit’ aku. Elusannya, remasan Om Dito di ‘bola kehidupan’ aku, dan kehangatan mulut mereka di leher aku membuat gairah aku meledak lagi.
Agghh… om… ohh… sshh! desahan aku bertambah keras. Om Dito langsung melahap ‘bola kehidupan’ aku dengan rakus. Om Edo juga beraksi meraba ‘benteng’ aku yang sudah basah oleh ‘madu cinta’.
Emmhh… aahh… ohh… aagghh! Tubuh aku menggelinjang tak terkendali.
Om Dito melumat bibir aku bernafsu. Lidah kami saling beraut. Mmuach! Sementara Om Edo menjilati paha aku, perlahan naik, sampai di ‘serambi lempit’ aku. Lidahnya bergerak liar di ‘tonjolan kenikmatan’ aku. Ssluurrp.. Ngiingg..
Bersamaan, Om Dito melumat ‘bola kehidupan’ aku. Diperlakukan seperti itu, aku benar-benar hilang kendali. Aku meremas punggung Om Dito, menjambak rambutnya, merengek minta mereka tidak berhenti.
“Aaahh… om… teruss… sshh… enakk sekali!”
“Nikmat ya, Nez,” bisiknya sambil menjilat telinga aku.
Aku mengangkat pinggul aku. Om Edo mengerti, dia menyantap ‘serambi lempit’ aku dengan menyedot-nyedot sampai area itu semakin basah. Plek.. Sluuurp.. Plek..
Tubuh aku menegang. Aku memeluk Om Dito kuat-kuat. Aaagghh… Om… aku… oohh! jerit aku keras. Croottt… Cairan kenikmatan membanjiri bagian dalam aku. Tubuh aku melemas.
Om Edo dan Om Dito memberi aku jeda sejenak. Tiba-tiba, aku merasakan hembusan nafas di telinga aku. Om Dito sudah kembali. Kali ini, tubuh aku seperti digelitik ribuan semut. Om Dito sudah polos, bulu-bulu di dada dan lengannya menggelitiki aku.
Om Edo juga sudah bugil. Dia membuka kedua paha aku lebar-lebar.
Huuuuff… Gairah aku bangkit lagi. Lidah Om Edo menjalar di bibir ‘serambi lempit’ aku, ditambah Om Dito yang lahap menghisap ‘ujung kemerahan’ aku. Aaahh… om… nngghh… aaghh! rintih aku.
Om Edo mengganjal pinggul aku dengan bantal agar pantat aku terangkat. Lidahnya kembali bermain. Kali ini, ujung lidahnya masuk ke dalam ‘liang serambi lempit’ aku, bergerak liar. Srottt.. Srottt.. Seluruh tubuh aku bagai tersengat listrik. Aku menjerit-jerit.
Lalu, sesuatu yang hangat dan keras menyentuh bibir aku: ‘Rudal’ Om Dito. Dia menahan kepala aku dengan tangan. “Jilat, Nez.”
Aku menjilat ‘batang’ besarnya. Om Dito mendesah. Aaahh… Nez… jilat terus… nngghh!
Aku memasukkan kepala ‘rudal’nya ke dalam mulut. Om Dito meringis. “Jangan pakai gigi, Nez. Isap aja,” protesnya. Aku sengaja menggigit pelan.
Aku mengemut lagi. Ya… gitu Nez… sshh… enak… Nez! Sebagian ‘rudal’nya melesak masuk menyentuh langit-langit mulut aku. Sementara itu, Om Edo tiada henti menjilati ‘benteng’ aku.
Aku mengocok ‘rudal’ Om Dito yang separuhnya di dalam mulut aku. Om Dito mempercepat gerakan pinggulnya, menekan ‘batangnya’ lebih dalam. Aku kelabakan. Gelengan kepala aku malah membuat ‘rudal’nya seperti dikocok-kocok.
Om Dito bertambah beringas mengeluar-masukkan ‘rudal’nya. Aaagghh… nikmatt… Nez… aku… kkeelluaarr! jeritnya. ‘Cairan hangat’nya menyembur keras di dalam mulut aku. Srooottt!! Srooott!! Aku tersedak.
Aku sampai terbatuk, meludah, dan langsung duduk bersandar. “Gila, Om Dito! Kira-kira dong!” sungut aku.
“Maaf, Nez… enggak tahan. Isapan kamu enak banget.”
“Udah, Nez, santai lagi,” sela Om Edo, membersihkan sisa ‘cairan’ dari mulut aku dan memberiku minum.
Om Edo memeluk aku lembut, mengecup kening, hidung, dan bibir aku. Kecupan itu berubah menjadi lumatan panas. Leher dan telinga aku kembali jadi sasarannya. Ngekk.. Ngiingg.. Mmuach..
Om Edo merebahkan tubuh aku. ‘Ujung kemerahan’ aku dihisap, satunya lagi dipilin. Tangannya melesat turun, mengelus ‘tonjolan kenikmatan’ dan bibir ‘serambi lempit’ aku. Tubuh aku menggeliat-geliat.
Ooohh… mmppff… ngghh… sshh! Teruss… Om… aakkhh!
Aku semakin menggila saat Om Edo mulai memainkan lidahnya di ‘serambi lempit’ aku lagi. Aku meremas-remas ‘bola kehidupan’ aku sendiri. Jlekk.. Jlekk..
Om Edo merayap naik. Dia membuka lebar kedua kaki aku. Aku merasakan ujung ‘rudal’nya yang besar menyentuh ‘mulut serambi lempit’ aku yang basah.
Aauugghh… Om! jerit aku lirih, saat kepala ‘rudal’nya melesak masuk.
Om Edo menghentikan dorongannya, mendiamkan kepala ‘rudal’nya. Kemudian, perlahan dia memundur-majukannya, masih sebatas ujungnya.
“Ooohh… Om… sshh… aahh… enakk, Om!”
“Nikmatin, Nez. Nanti lebih enak lagi,” bisiknya.
Om Edo mempercepat ritmenya. Aku terombang-ambing. Tiba-tiba, Om Edo menekan ‘rudal’nya lebih dalam, membelah ‘serambi lempit’ aku. Auuhh… enak, Om!
Dia membenamkan seluruh ‘batang rudal’nya. Gesekannya menimbulkan sensasi luar biasa. Setiap tusukan dan tarikannya membuat aku menggelepar-gelepar.
“Ssshh… ohh… ahh… enakk, Om… empphh!”
“Ohh… Nez… enak banget ‘benteng’ kamu… oohh,” puji Om Edo.
“Agghh… terus, Om… teruss!”
Peluh mulai membasahi tubuh kami. Jlebb.. Jlebb.. Jlebb.. Srott.. Magma birahi semakin menggelegak.
“Om… oohh… tekan, Om… agghh… nikmat sekali, Om!”
Tubuh aku mengejang. Aku memeluk Om Edo erat-erat. Magma birahi aku meledak, mengeluarkan ‘cairan kenikmatan’ yang membanjiri bagian dalam aku. Croott.. Croott.. Aaaggghhh!!
Aku terkulai lemas, tapi itu tidak lama. Om Edo mulai lagi, hisapan dan remasan di dada, serta pinggulnya yang berputar, kembali membangkitkan birahi aku. Duk.. Duk.. Duk..
Saat posisi aku di atas Om Edo, Om Dito kembali. Dia berlutut, memeluk aku dari belakang. Leher aku dipagutnya. Kedua tangannya memainkan ‘bola kehidupan’ aku.
Tangannya mulai bermain di ‘tonjolan kenikmatan’ aku. Aku mendongak, bersandar di pundak Om Dito. Mulut aku yang tak henti mengeluarkan desahan langsung dilumatnya.
Pinggul aku semakin bergoyang, berputar liar di atas ‘rudal’ Om Edo. Aku ingin ‘rudal’ Om Edo mengaduk-aduk seluruh isi ‘liang serambi lempit’ aku.
“Aaargghh… Nez… enak banget… terus, Nez… goyang terus!”
Om Dito meminta merubah posisi. Om Edo berbaring di pinggir ranjang, kaki menjulur di lantai. Aku merangkak ke arah ‘batang rudal’ Om Edo.
“Isap, Nez.” Aku segera mengulum ‘rudal’nya.
“Ooohh… enak, Nez… isap terus.”
Bersamaan, aku merasakan Om Dito menggesek-gesek bibir ‘serambi lempit’ aku dengan kepala ‘rudal’nya. Tubuh aku bergetar. Perlahan, ‘rudal’ besar Om Dito menyeruak, menembus ‘serambi lempit’ aku. Jlebb!
Sensasi dua ‘rudal’ di dalam tubuh aku! Aku mengulum ‘rudal’ Om Edo dengan sangat bernafsu.
“Nez… terus, Nez… aku enggak tahan lagi… Aaarrgghh!”
Aku lebih siap kali ini. Semburan ‘cairan hangat’ Om Edo datang. Srooottt… Srooottt…
“Aaagghh… nikmat banget, Nez… isap teruss… telan, Nez!” Aku menghisapnya sampai tetes terakhir.
Om Edo beranjak. Hujaman ‘rudal’ Om Dito dalam posisi doggy membuat aku merintih-rintih. Duk.. Duk.. Duk.. Ditambah elusan ibu jarinya di pantat aku. Om Dito bahkan meludahi dan memasukkan ibu jarinya ke ‘lubang dinding belakang’ aku. Sluurrp… Jlebb..
“Engghh… yang keras, Om… mmpphh… Enak banget, Om… aahh… oohh!”
Om Dito tambah bersemangat menggedor dua ‘lubang’ aku. Ibu jarinya makin dalam. Aku lupa daratan. Tiba-tiba, dia mencabut ‘rudal’ dan ibu jarinya.
“Om… kenapa dicabut? Masukin lagi, Om… pliiiis!”
Dia hanya meludahi ‘lubang dinding belakang’ aku lagi, kali ini lebih banyak. Dia mulai menggosok kepala ‘rudal’nya. Rasa geli-geli enak. Dengan sodokan jari di ‘serambi lempit’ aku, tiba-tiba… Jlebb!
Kepala ‘rudal’nya menembus ‘lubang dinding belakang’ aku. Perlahan tapi pasti, ‘batang rudal’nya membelah pantat aku dan tenggelam habis. Nyeerrr!
Dia mencium punggung aku. Separuh tubuh aku tengkurap di ranjang, aku mencengkeram dan menggigit bantal menahan rasa sakit. Berangsur-angsur, rasa sakit hilang. Aku bahkan mulai menyukai ‘batang keras’ Om Dito yang menyodok-nyodok pantat aku. Duk.. Duk.. Duk..
“Aaahh… aauuhh… oohh, Om!” erang aku.
Om Dito dengan buas menghantamkan pinggulnya. Semakin keras Om Dito menghujam, semakin aku terbuai.
Om Edo yang sudah pulih kembali bergabung. Aku ditarik menindihinya. Sambil melumat mulut aku, Om Edo membuka lebar paha aku dan langsung menancapkan ‘rudal’nya ke ‘serambi lempit’ aku. Jlebb!
Om Dito, yang ada di belakang, meludahi ‘dinding belakang’ aku lagi. Ssluurp! Sensasi seksual luar biasa hebat. ‘Rudal’ mereka yang keras mengaduk-aduk ‘serambi lempit’ dan ‘dinding belakang’ aku.
Duk.. Duk.. Jlebb.. Srott.. Srott.. Hentakan mereka di dua ‘lubang’ aku memberi kenikmatan tak terperikan.
Posisi diubah. Aku terlentang di atas Om Dito, ‘rudal’nya tetap di ‘serambi lempit’ aku. Om Edo membuka lebar kaki aku dan menghujamkan ‘rudal’nya di ‘dinding belakang’ aku. Jlebb!
Posisi ini membuat aku menggila. Kedua ‘lubang’ aku digarap, dan ‘bola kehidupan’ aku juga. Om Dito memagut leher aku dan meremas ‘bola kehidupan’ aku. Om Edo melengkapinya dengan menghisap ‘ujung kemerahan’ aku. Sluuuurp.. Ngiingg..
Aku sudah tidak mampu lagi menahan deraan kenikmatan. Duk.. Duk.. Duk.. Srott.. Srott.. Hantaman-hantaman Om Edo yang semakin buas dibarengi sodokan Om Dito.
Hingga akhirnya aku merasakan sesuatu di dalam ‘benteng’ aku akan meledak. Keliaran aku menjadi-jadi. “Aaagghh… ouuhh… Om… tekaann!” jerit dan erang aku tak karuan.
Dan tak berapa lama kemudian tubuh aku serasa melayang. Aku mencengkeram pinggul Om Dito kuat-kuat, kutarik agar batangnya menghujam keras di ‘benteng’ aku.
Jeritan aku, lenguhan, dan erangan mereka menjadi satu. “Aduuhh… Om… nikmat sekalii.” “Aaarrghh… Nez… enakk bangeett.”
Keduanya menekan dalam-dalam milik mereka, cairan hangat menyembur hampir bersamaan di dua ‘lubang’ aku. Srooottt!! Srooottt!! Tubuh aku bergetar keras, mengejang. Kami terkulai lemas.
Aku terkapar di ranjang. Kedua Om itu meninggalkan vila. Aku tertidur kecapean, sampai Pak Bayu membangunkan aku menjelang subuh.
Aku lihat dia sudah bugil, ‘rudal’ besarnya sudah ‘siap tempur’. Segera aku digarapnya dengan ganasnya. Jlebb.. Duk.. Duk.. Sepanjang sisa malam, dia melampiaskan nafsunya ke aku sampai akhirnya kami berdua terkapar kelelahan. Malam ini, aku benar-benar jadi Ratu Sensasi!