
Cerita Dewasa Terbaru – Namaku Aditya (32), dan istriku, Kirana (30), sudah tiga tahun menikah. Kami tinggal di sebuah apartemen mewah di jantung kota Jakarta. Rutinitas bercinta kami, meskipun hangat, perlahan terasa monoton. Semua berawal dari fantasi liar yang sering kami bagi saat menjelang tidur. Kami terbiasa mengkhayalkan kehadiran orang ketiga, seorang pria, dalam setiap sesi panas kami. Khayalan itu kami dapat dari tontonan film biru atau bacaan di internet.
“Sayang,” bisik Kirana, usai sesi kami yang cukup ‘menggelora’ malam itu.
“Kenapa, cantik?” aku membelai rambutnya yang basah oleh keringat.
“Khayalan kita… itu semakin nyata ya rasanya? Tapi aku mulai bosan kalau cuma dibayangkan terus,” katanya, matanya menatapku penuh makna.
Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini. Beberapa waktu lalu, aku sempat berkelakar tentang ide threesome (3S) atau bahkan foursome (4S). Jelas, awalnya ia menolak keras. Kirana dibesarkan dengan norma ketimuran yang kental. Tapi, seperti air yang menetes di batu, aku terus memberinya alasan logis, bahwa ini hanya tentang memuaskan hasrat dan bonding di antara kami, bukan perselingkuhan. Akhirnya, dia luluh.
“Aku setuju, tapi ada syaratnya,” kata Kirana waktu itu, “Kita tidak akan main 4S. Aku nggak mau lihat kamu dengan wanita lain. Dan… jangan pernah lewat belakang,” tegasnya, merujuk pada area dubur.
“Siap, Princess,” kataku sambil mencium keningnya. “Kalau 3S, aku mau lelaki yang kita ajak harus lembut, nggak kasar, dan bisa bikin aku bergairah seperti kamu,” pintanya.
Sejak saat itu, pencarian pun dimulai. Ini bukan perkara mudah, mencari jarum di tumpukan jerami, apalagi ini menyangkut keamanan dan hubungan kami. Kami tidak mau gegabah.
Satu malam, saat aku iseng menjelajah di sebuah forum pribadi, aku menemukan sebuah nomor HP yang terpampang di profil media sosial, di sebuah unggahan lama. Agak ragu, aku mencoba menghubunginya lewat pesan singkat.
“Aku Adit. Lihat postingan lama kamu. Tertarik ngobrol?”
Tak lama, balasan datang. Singkat cerita, setelah bertukar pesan, aku mengajaknya teleponan. Pria itu, sebut saja Bayu (28), ternyata memiliki orientasi yang sama dengan kami, ingin mencoba pengalaman 3S. Bayu bekerja sebagai freelancer desain grafis di Bandung. Kami sepakat untuk bertemu lebih dulu.
Sabtu, 14 November 2025. Kami janjian makan siang di sebuah kafe di daerah Puncak, Bogor, yang jaraknya lumayan dari Jakarta dan Bandung. Aku dan Kirana tiba lebih dulu. Kirana sedikit pucat, terlihat gugup.
“Tenang, aku di sini. Anggap saja ini blind date dengan teman barumu,” hiburku.
Bayu datang. Posturnya atletis, pembawaannya santai dan sopan. Kami bertiga berkenalan, mengobrol, membahas semua hal mulai dari pekerjaan, hobi, hingga musik. Bayu sama sekali tidak terkesan ‘predator’. Justru dia tampak hangat.
Di tengah obrolan, saat Bayu sedang ke toilet, Kirana menyentuh tanganku di bawah meja. Matanya menyiratkan persetujuan.
“Dia lumayan, mas. Dia tampak gentle,” bisiknya pelan.
Kami pun mengalihkan pembicaraan ke rencana inti. Kami sepakat untuk bertemu di sebuah vila kecil di daerah Cianjur akhir pekan berikutnya. Kami akan datang terpisah, untuk menghindari kecurigaan. Bayu akan menginap di vila yang berdekatan.
Jumat, 20 November 2025. Aku dan Kirana tiba di vila menjelang malam. Suasana pegunungan yang dingin dan sepi sangat mendukung suasana. Setelah meletakkan barang, aku mengajak Kirana untuk memulai sesi pemanasan.
“Aku gugup banget, Dit,” Kirana memelukku erat.
“Justru itu tujuanku. Aku mau kamu santai,” kataku. Aku tahu, aku sendiri juga gugup memikirkan bagaimana kami akan memulainya nanti.
Aku membelainya perlahan, melepaskan pakaiannya satu per satu, begitu juga pakaianku. Dalam hitungan menit, kami berdua sudah telanjang, bergelut di bawah selimut tebal. Cumbuan kami lambat, penuh penghayatan, tapi efektif membangkitkan gairah Kirana. Aku mencium lehernya, turun ke dadanya. Aku dengar desahannya mulai intens.
Aku mengirim pesan singkat pada Bayu. “Waktunya. Ketuk tiga kali, ya.”
Kirana menolak membukakan pintu. “Aku malu! Aku sudah telanjang!”
Aku membujuknya. “Cuma dibungkus selimut. Justru ini yang akan mencairkan suasana. Kamu harus yang menyambut,” kataku lembut.
Akhirnya, dia menurut. Kirana turun dari ranjang, tubuhnya hanya terbalut selimut, dan membuka pintu.
Bayu masuk. Ekspresinya menunjukkan sedikit kegugupan, melihat Kirana yang hanya berselimut. Ia segera duduk di kursi, sementara Kirana kembali ke ranjang, merapatkan selimutnya di tubuhku.
“Bagaimana di luar? Aman?” tanyaku, mencoba mencairkan suasana.
“Aman, Mas. Sangat aman,” jawab Bayu.
“Bayu, kamu mandi dulu sana. Biar segar,” tawarku.
Bayu menerima dan langsung masuk ke kamar mandi.
Saat pintu tertutup, aku berbisik pada Kirana, “Kamu ikut mandi sebentar. Sekalian hilangkan ‘kekakuan’ ini,”.
“Nggak ah, malu,” tolaknya.
Aku tidak memaksa. Aku kembali mencumbunya. Aku memain-mainkan dadanya, menjilati perutnya. Kami kembali ON. Aku masih menahan diri untuk tidak menyentuhnya lebih jauh, menunggu Bayu keluar.
Saat kami sudah tidak lagi tertutup selimut, Bayu keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Dia terpaku sejenak, melihat kami sudah telanjang. Kirana, yang sudah terangsang, seakan tidak memedulikan keberadaan Bayu. Bayu perlahan duduk di tepi ranjang.
Aku menatap Bayu, memberinya ‘izin’ untuk bergabung. Bayu dengan gerak sangat perlahan, menyentuh bahu dan punggung Kirana. Kirana sedikit tersentak, tapi desahannya tetap kencang. Aku melanjutkan cumbuanku.
Bayu mengambil isyarat. Dia melepaskan handuknya. Kirana sudah sepenuhnya menerima. Bayu mulai meraba tubuh telanjang Kirana dari belakang. Dia meremas kedua gundukan dada Kirana yang berisi, lalu mulai menciumi leher dan punggungnya.
Kirana semakin menggeliat keenakan, karena tubuhnya miring ke arahku, sementara Bayu ‘menyerang’ dari belakang. Aku membalik tubuh Kirana, membuatnya telentang. Bayu segera menempelkan bibirnya di bibir Kirana, dan mereka berciuman mesra.
Tangan Bayu semakin bebas bergerak. Dia meremas dada Kirana, turun ke perutnya, dan akhirnya sampai di pangkal paha. Bayu membelai pelan serambi lempit Kirana. Kirana mendesah keras ketika jari Bayu mulai bermain di permukaan serambi lempitnya.
Aku berbisik pada Kirana, “Pegang rudal Bayu, Sayang. Dia sudah siap perang,”.
Dengan perlahan, tangan Kirana menyentuh rudal Bayu yang sudah keras. Matanya menatapku, meminta persetujuan. Aku mengangguk, memberinya izin penuh untuk memperlakukan Bayu sama seperti memperlakukanku.
Bayu mulai memain-mainkan mulutnya di serambi lempit Kirana. Aku mengambil alih tubuh bagian atas. Aku menciumi bibirnya, telinganya, lehernya, dan memainkan dadanya. Kirana kewalahan dengan serangan ganda kami. Dia menggeliat, mendesah keras, kenikmatan membanjiri dirinya.
“Mas Adit, Mas dulu. Mas yang lebih berhak,” kata Bayu.
Aku mengangguk. Aku memayungi tubuh Kirana. Aku mengarahkan rudalku ke serambi lempit Kirana yang sudah sangat basah dan berlendir.
Slup!
Batang rudalku mulai terbenam. Kirana mendesah nikmat, kepuasan tergambar jelas di wajahnya. Setelah seluruhnya masuk, aku mulai mengayunkan pinggulku.
Bayu kemudian meletakkan pahanya sebagai bantal kepala Kirana. Karena rudal Bayu sudah dekat dengan mulut Kirana, Kirana mengulumnya perlahan. Tangan Bayu meremas dada Kirana.
Aku tidak ingin mencapai klimaks secepat ini. Aku mencabut rudalku, dan mempersilakan Bayu mengambil posisiku.
Kirana, yang sudah di puncak birahi, membiarkan Bayu memayungi tubuhnya. Bayu menahan kaki Kirana, membuka pahanya lebar-lebar.
Jleb!
Bayu memasukkan rudalnya ke serambi lempit Kirana. Dia mulai menggerakkan tubuh telanjangnya di atas tubuh Kirana.
Kirana membalas ayunan tubuh Bayu dengan menggoyangkan pinggulnya. Mereka berciuman mesra, saling meremas. Aku mundur, pindah ke kursi di sudut ruangan, hanya untuk menikmati pemandangan itu.
Perasaan aneh menyeruak. Antara terangsang hebat, dan bahagia melihat istriku menikmati persetubuhan dengan pria lain di hadapanku. Mereka bergelut dalam posisi missionary. Kirana, yang sudah lama dirangsang, kini terlihat semakin liar. Napasnya memburu.
“Bayu! Lebih dalam! Tekan lagi!” teriak Kirana, memanggil nama Bayu.
Bayu dengan semangat menghujamkan rudalnya ke serambi lempit Kirana. Tubuh Kirana mengejang, tangannya meremas punggung Bayu yang sudah basah oleh keringat. Kirana mencapai orgasme pertamanya di bawah tindihan Bayu.
Bayu berhenti sejenak, menatapku, seolah meminta izin untuk melanjutkan dan melepas orgasmenya. Aku mengangguk.
Bayu kembali memompa pinggulnya. Mulanya perlahan, lalu semakin cepat. Tak lama, aku mendengar lenguhan Bayu. Dia memeluk tubuh Kirana, dan menghujamkan rudalnya sedalam-dalamnya. Bayu menikmati pelepasan air maninya di serambi lempit Kirana. Kirana menyambutnya dengan melilitkan kakinya di pinggang Bayu.
Setelah Bayu mencapai klimaks, dia ambruk ke samping. Aku segera naik ke ranjang. Tanpa basa-basi, aku menghujamkan rudalku yang sudah mengeras ke serambi lempit Kirana.
Aku mengulum bibirnya, memainkan lidahku. Kirana memelukku, pinggulnya bergoyang. Serambi lempit Kirana yang banjir oleh air mani Bayu terasa hangat. Terdengar suara plok-plok-plok yang intens saat rudalku maju mundur.
Kirana, yang masih di masa orgasme, kembali merintih keenakan. Bayu, yang sudah istirahat sebentar, ikut memberikan rangsangan. Dia mengulum bibir Kirana, tangannya meremas dadanya dan memainkan putingnya.
Karena sudah terangsang berat, aku menggerakkan rudalku semakin cepat. Deg! Aku menghujamkan rudalku dalam-dalam.
Air maniku muncrat di dalam serambi lempit Kirana. Kirana kembali meraih orgasmenya. Saat aku tengah meregang, aku melihat Kirana merengkuh leher Bayu, melumat bibirnya. Tubuhnya bergetar hebat melepas orgasme.
Tubuhku ambruk kelelahan di samping Kirana. Kami bertiga terbaring, di atas ranjang yang sudah acak-acakan.
Setelah keheningan sejenak, Kirana tersenyum. Kami bertiga mengobrol, tanpa repot-repot menutup tubuh kami yang telanjang. Bayu menyalakan rokok dan menawarkannya padaku. Kirana beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Puas banget, Mas,” kata Bayu padaku, mengeluarkan asap rokok. “Boleh nggak, lain kali aku meniduri istri Mas tanpa Mas di kamar?”
“Silakan. Aku justru ingin melihat lagi istriku bercumbu dengan lelaki lain di hadapanku,” jawabku santai.
Kirana keluar, tubuhnya sudah segar. Dia kembali ke ranjang, merebahkan diri di antara kami. Kami mengobrol lagi, dengan topik yang makin lama makin menjurus ke hal-hal porno.
Kebetulan, Bayu membawa film biru di HP-nya.
Scene Baru:
Bayu mengeluarkan HP-nya. “Nonton ini, Mas, Mbak. Ini film favoritku.”
Karena layarnya kecil, kami harus menyatukan kepala kami, menonton dengan posisi sangat berdekatan. Film itu menampilkan adegan pasangan asing yang sedang foursome.
Aku merasakan tangan Bayu kembali aktif. Dia memainkan puting dada Kirana. Aku sendiri mulai membelai-belai lembut serambi lempit Kirana.
Kirana kembali ON. Matanya memerah. Bayu segera mencumbui Kirana, dan Kirana melingkarkan tangannya ke leher Bayu.
“Aku pindah,” kataku. Aku mengambil HP Bayu dan pindah ke kursi.
Di ranjang, Kirana dan Bayu kembali bergelut panas. Perhatianku terbagi. Di layar HP, adegan 4S bule, sementara di ranjang, istriku dan Bayu bergelut.
Tak lama, Kirana mengambil posisi di atas Bayu, duduk di selangkangannya. Kirana sendiri yang membimbing rudal Bayu memasuki serambi lempitnya. Bayu meremas dada dan paha Kirana.
Aku menyaksikan Kirana mengayunkan tubuhnya. Kadang mereka berciuman, kadang Kirana duduk tegak, menaik turunkan tubuhnya. Kirana mendesah kenikmatan. Bayu menaikkan punggungnya agar mereka bisa berciuman. Sesekali, Bayu menghisap dada Kirana, sementara Kirana menjambak lembut rambut Bayu.
Aku sangat terangsang melihat mereka. Rudalku kembali berdiri tegak. Aku mematikan HP dan fokus melihat mereka.
Mereka berganti posisi. Kirana mengambil posisi doggy style. Bayu berdiri dengan lutut ditekuk di belakang Kirana.
Rudal Bayu masuk dari belakang. Bayu mengayunkan pinggulnya, membuat rudalnya keluar masuk dengan lancar di serambi lempit Kirana. Kirana mendesah, diamuk birahi. Bayu pun memejamkan mata, merasakan jepitan hangat serambi lempit Kirana.
Tak lama, tubuh Kirana meregang. Dia orgasme lagi. Bayu bergerak makin cepat, dan tubuhnya pun meregang. Mereka orgasme hampir bersamaan. Kepala Bayu mendongak ke atas saat melepaskan air maninya. Setelah bergetar beberapa kali, mereka ambruk.
Kelelahan tampak di wajah Kirana. Aku mengurungkan niat untuk menyetubuhinya lagi. Aku memeluknya yang bermandi peluh, dan mencium bibirnya. Kami bertiga akhirnya tertidur.
Aku dan Kirana terbangun. Bayu masih terlelap. Kami tidak ingin membangunkannya. Kami menuju kamar mandi untuk membersihkan badan.
Di kamar mandi, nafsuku kembali bangkit. Kirana tidak keberatan.
Scene Baru:
“Mau di sini saja, Sayang?” bisikku.
“Iya, cepetan, sebelum dia bangun,” jawabnya.
Kirana mengambil posisi menungging, bersandar ke kloset. Aku menyusupkan rudalku ke serambi lempitnya. Aku mengayunkan pinggulku, sambil meremas dada dan bokong Kirana.
“Aku sudah tiga kali orgasme, Mas. Kalau kamu mau lepas, nggak usah tunggu aku lagi,” kata Kirana.
Aku sudah merasa mau meledak. Aku menggenjot lebih cepat. Kirana mendesah nikmat. Akhirnya, aku meregang, memuntahkan air maniku di serambi lempitnya.
Kami kemudian melanjutkan mandi yang tertunda. Saat keluar, Bayu masih tidur. Kirana bahkan menyelimuti tubuh telanjang Bayu. Kami duduk di beranda, menikmati minuman hangat, sambil melihat kabut Cianjur perlahan menghilang.
Malam itu, permainan 3S terulang. Dua kali kami main bertiga dengan berbagai variasi gaya. Satu kali Bayu dan Kirana. Satu kali aku menyetubuhi Kirana. Semuanya berakhir dengan kepuasan bersama.
Aksi 3S kami berlangsung hingga jam 3 subuh. Kami kembali tidur kelelahan, berpelukan bertiga di balik selimut. Kirana tidur memelukku, dan Bayu memeluk Kirana dari belakang.