Cerita Dewasa Hubungan Terlarang Dengan Tante Cantik Tetangga Rumahku

Tante Girang Cantik 52 Tahun Tetanggaku

Cerita Dewasa Terbaru – Aku mau ceritain pengalaman pribadi aku sama tetangga aku yang sudah di anggap keluarga sendiri. Aku, Rafa, tinggal di sebuah komplek perumahan lama di Bogor yang udaranya masih lumayan sejuk. Kalian tahu lah, kehidupan bertetangga di komplek seperti ini masih kental.

Tetangga yang aku maksud ini namanya Rasti. Aku biasa memanggilnya Bunda Rasti. Suaminya meninggal tiga tahun lalu karena sakit, jadi sekarang beliau berstatus janda. Usianya sudah 55 tahun. Anak-anaknya sudah menikah semua dan merantau ke luar kota, jadi Bunda Rasti tinggal sendirian di rumah besar itu.

Jujur, sebenernya aku nggak punya niat buruk sama Bunda Rasti. Dari kecil, aku sudah sering dititipkan sama beliau karena orang tua aku sibuk kerja. Beliau itu wanita yang sangat baik, ramah, dan alim. Beliau juga guru mengaji aku waktu aku masih SD. Sehari-harinya, beliau selalu tampil tertutup dengan gamis yang longgar. Wajahnya memang nggak begitu cantik lagi, sudah mulai ada kerutan di sudut mata, dan rambutnya juga sudah dihiasi uban. Bodinya pun sudah biasa saja, wajar karena faktor usia.

Tapi semenjak aku sering baca-baca cerita di forum daring yang temanya wanita setengah baya, otak aku jadi sering merhatiin Bunda Rasti.

Hal yang paling bikin aku mulai nggak karuan dan ngebayangin beliau kalau lagi solo play itu, adalah saat aku nggak sengaja lihat beliau lagi dikerokin sama Mama aku. Waktu itu sekitar enam bulan yang lalu. Aku nggak tahu kalau ada Bunda Rasti di kamar Mama. Aku masuk karena mau minta uang jajan. Dan yang bikin rudal aku langsung bangun, Bunda Rasti lagi nggak pakai baju atasan, cuma pakai kemben atau bustier seadanya, setengah telanjang di punggungnya. Ya ampun, meskipun usianya sudah segitu dan payudara beliau nggak besar-besar amat, tapi pemandangan itu sukses bikin aku linglung.

Semenjak insiden itu, aku jadi sering memperhatikan Bunda Rasti. Tapi ya bingung gimana cara mulainya. Beliau terlalu aku hormati. Sampai akhirnya, kesempatan itu datang juga.

Waktu itu hari Sabtu, sekitar pukul 11 siang. Aku lagi sendirian di rumah, kebetulan nggak ada jadwal bimbingan skripsi. Tiba-tiba, rumah aku ada yang mengetuk.

Bunda Rasti: “Tok… tok… Assalamualaikum, Rafa?”
Rafa: “Walaikumsalam!” (Aku bergegas membuka pintu) “Eh, Bunda Rasti. Ada apa, Bun?”

Bunda Rasti: “Mama kamu ada, Nak?” (Kebiasaan dari dulu memanggil aku ‘Nak’)
Rafa: “Lagi nggak ada, Bun. Sama Papa juga. Katanya lagi ada arisan kantor di luar kota.”

Bunda Rasti: “Yahhh…”
Rafa: “Kenapa emangnya?”

Bunda Rasti: “Nggak, tadinya Bunda mau minta dikerokin lagi. Nggak enak badan dari kemarin. Maklum lah, udah nenek-nenek.” (Beliau terkekeh pelan)
Rafa: “Ohhh, kirain kenapa. Sama aku aja kalau cuma ngerokin, Bun. Aku bisa kok.” (Otak mesum aku sudah mulai muncul, langsung cari celah)
Bunda Rasti: “Emang kamu bisa, Nak? Nanti badan Bunda bukannya sembuh malah biru-biru.”

Rafa: “Bisa, Bun. Kan sering lihat Mama aku kalau ngerokin Papa.”
Bunda Rasti: “Hmmmm, ya sudah deh. Tapi di rumah Bunda aja, ya. Soalnya minyak sama balsemnya ada di sana.”

Rafa: “Oke, Bun. Aku matiin laptop dulu ya sebentar.”
Bunda Rasti: “Bunda tunggu di rumah, Nak.”

Aku bergegas ke dalam untuk mematikan laptop dan nggak lupa, aku kunci pintu rumah. Aku jalan cepat, kebetulan rumah Bunda Rasti cuma satu belokan saja dari rumah aku.

Rafa: “Assalamualaikum, Bun!”
Bunda Rasti: “Eh, kamu. Masuk, Nak.”

Di situ, Bunda Rasti cuma pakai daster rumahan tanpa lengan. Memang sudah kebiasaan beliau seperti itu karena mungkin sudah menganggap aku bukan orang lain lagi.

Rafa: “Mau dikerok di mana, Bun?”
Bunda Rasti: “Di kamar Bunda aja, Nak. Lebih tenang. Yuk, tolong kunciin pintunya dulu, ya.”

Pikiran aku udah nggak karuan ke mana-mana. Jantung aku berdegup kencang, takut campur sange. Dengan tangan bergetar, aku langsung kunci pintu kamar dari dalam.

Saat aku masuk, Bunda Rasti lagi mengambil minyak kayu putih di meja rias. Dia sudah ganti daster tanpa lengannya dengan sarung batik yang diikat di pinggang.

Bunda Rasti: “Kamu libur kuliah, Nak?”
Aku yang masih bingung mau mulai dari mana, hanya bisa menjawab singkat.
Rafa: “Eh… I… Iya, Bun.”
Bunda Rasti: “Tuh, minyaknya.” (Beliau menunjuk botol minyak di sampingnya)

Saat itu, beliau masih pakai bra dan celana legging pendek selutut di balik sarung batiknya. Ya ampun, meskipun sudah umur 55 tahun, tapi menurut aku, bodinya masih lumayan terjaga, perutnya nggak terlalu buncit.

Akhirnya, aku mulai mengerok bagian punggungnya. Kresss… Kresss… suara logam koin beradu dengan kulit.

Bunda Rasti: “Pelan-pelan, Nak. Bunda gampang geli orangnya.”
Rafa: “Iya, Bun.” (Jawab aku singkat karena rudal aku sudah mulai tegang keras)

Aku banyak diam di situ, fokus mengerok, berusaha menormalkan pikiran. Tapi aroma minyak kayu putih bercampur keringat Bunda Rasti yang samar-samar, justru makin memancing fantasi. Akhirnya, aku beraniin diri buka omongan.

Rafa: “Bun, kok nggak nikah lagi sih?”
Bunda Rasti: “Hahahaha, kamu ini. Bunda sudah tua begini siapa yang mau, Nak?”
Rafa: “Bunda masih cantik kok menurut aku. Masih banyak Om-Om yang mau.”

Bunda Rasti: “Sudah jago gombal kamu ya, hahaha. Sudah sana, kerokin lagi.”
Rafa: “Beneran kok, Bun, aku nggak bohong. Bunda itu… menarik…”

Saat aku bilang begitu, Bunda Rasti seperti orang kaget. Beliau refleks balik badan. Dan nggak sengaja, tangan beliau nyenggol rudal aku yang sudah berdiri tegak di balik celana bahan aku.

Bunda Rasti: “Astaghfirullah! I… Itu kamu… kok bisa bangun sih, Nak?”
Beliau langsung berusaha menutupi dadanya dengan sarung batiknya.

Rafa: “Ehmm… Maaf, Bun.” (Aku mulai takut, keringat dingin membanjiri dahi)
Bunda Rasti: “Masa kamu nafsu sama Bunda sih? Bunda kan sudah tua, Nak. Dan juga kamu itu… sudah Bunda anggap anak sendiri.”

Wajah Bunda Rasti mulai berubah, tampak kaget bercampur kecewa, tapi di mata beliau ada kilatan yang nggak bisa aku artikan, seperti senang tapi sedih. Aku tambah takut, tapi hasrat aku lebih besar.

Rafa: “Bun, maafin aku. Bukan maksud aku kaya gitu. Tapi jujur, aku itu suka sama Bunda. Dan perasaan aku ke Bunda bukan anak ke ibu, Bun. Perasaan aku itu beda ke Bunda.” (Aku menunduk, nggak berani menatapnya)
Bunda Rasti: “Kamu apa-apaan sih, Nak, ngomong kaya gitu? Kamu kan bisa cari yang lain, bukan Bunda. Bunda itu sudah anggap kamu anak Bunda sendiri.”

Aku memberanikan diri. Aku pegang pipi beliau dengan kedua tangan aku.

Rafa: “Bun, aku jujur sama Bunda. Aku cinta Bunda. Tapi kalau Bunda nggak terima, nggak apa-apa. Tapi mungkin aku bakal pindah dari sini. Aku nggak sanggup lihat Bunda kalau perasaan aku nggak terbalas.”
Bunda Rasti mulai menangis, wajahnya tertunduk, megangin sarung batik untuk nutupin payudaranya.

Aku nggak tahu siapa yang mulai, apakah Bunda Rasti condong ke depan, atau aku yang menarik dagunya. Tiba-tiba, bibir kami sudah saling bertemu. Ciuman itu terjadi. Bibir Bunda Rasti nggak ada penolakan sama sekali. Malah, kami saling isap lidah.

Bunda Rasti: “Mmhmm… Mmmh…” Cuma suara itu yang keluar dari bibir ranumnya yang sedikit keriput.

Nggak lama, Bunda Rasti mulai tiduran di kasur. Aku melepaskan kait bra-nya perlahan. Beliau hanya memejamkan mata, pasrah, tanpa ada perlawanan. Payudaranya memang nggak begitu besar, ukurannya sedang, dan sudah mulai kendor ke samping karena faktor usia dan menyusui. Tapi sensasinya, ya Allah.

Ciuman aku mulai turun ke bawah, ke payudaranya, meremas pelan.

Bunda Rasti: “Hemhhh… emhhhh… jangan, Nak… jangan…”

Aku sudah nggak peduli dengan ucapan beliau. Suara itu terdengar seperti sebuah permohonan yang tertunda. Aku melepaskan celana legging dan celana dalam brief-nya. Beliau hanya diam, sambil terus memejamkan mata tanpa ada perlawanan. Aku lihat serambi lempit beliau, nggak begitu mulus dan sudah berambut jarang. Mungkin karena faktor usia, warnanya pun sudah agak gelap. Tapi aku nggak peduli. Aku mengarahkan wajah aku ke sana.

Rafa: “Aku sayang serambi lempit Bunda…”
Bunda Rasti: “Nak, jangan, Nak. Jorok itu… Bunda mohon…”

Tapi emang namanya setan sudah menguasai, aku jilat perlahan serambi lempit itu, mencari pintu masuk-nya yang sudah agak mengendur. Sluurppp… Sluurpp… Aku jilat sambil mulai memasukkan satu jari aku.

Bunda Rasti: “Ahhh… ahhh… Enakk, Nak… lebih dalam…”

Nggak lama, Bunda Rasti mulai klimaks. Tubuhnya menegang.

Bunda Rasti: “Ahhhhhhh! Rafa… Bunda mau pipissssss…”

Beliau orgasme yang pertama. Aku yang sudah nggak ketulungan, langsung membuka celana aku dan mengeluarkan rudal aku yang sudah keras mengacung, ukurannya sekitar 15 sentimeter.

Bunda Rasti: “Nak… Bunda mohon, jangan! Ini dosa besarrrrrr…”

Tapi nggak ada perlawanan sama sekali. Justru tangannya menarik pinggang aku lebih dekat. Aku mulai memasukkan rudal aku ke dalam serambi lempit Bunda Rasti. Bles! Suara hentakan daging itu terasa empuk dan basah.

Bunda Rasti: “Dehhh… Pelaannnnnnn… Rudal kamu gedeeee bangeettt… sakittttt!”

Aku sudah nggak peduli. Aku mulai memompa. Plokkkkkk… Plokkkk… Plokkkk… Suara hentakan kulit dan daging memenuhi kamar. Aku cium bibirnya, menahan suara desahan Bunda Rasti yang makin kencang.

Sepuluh menit berlalu, aku mulai bosan dengan posisi missionary.

Rafa: “Bun, nungging…”
Beliau tanpa bicara langsung nurut. Dengan serambi lempit yang makin memerah, beliau langsung mengambil posisi menungging, mengandalkan bantal sebagai tumpuan. Aku langsung tancap gas lagi, mengincar titik terdalam.

Plokkkkkk… Plokkkk… Plokkkkkkk… Kali ini hentakannya lebih dalam, lebih liar.

Sekitar 15 menit kemudian, suara Bunda Rasti terdengar parau.

Bunda Rasti: “Rafa… Deee… Bunda gaaaa kuatttttt…”

Dan aku juga sudah di ambang pelepasan. Aku menarik rudal aku sedikit keluar untuk mencari posisi yang pas.

Rafa: “Samaaa, Bun… Akuuu jugggaaa mauuuu keluar… Keluar di mana, Bun?”

Nggak ada jawaban dari Bunda Rasti, yang ada hanya tarikan napas pendek dan desahan pasrah. Akhirnya, aku putuskan untuk keluar di dalam.

Crotttttt… Croooitttt… Crooooottt… Suara semburan hangat itu membasahi rahimnya yang sudah lama nggak disiram. Sekitar enam semprotan aku lepaskan. Bunda Rasti hanya mengerang panjang, tubuhnya ambruk ke kasur, tak berdaya.

Kami berdua terbaring telanjang, kelelahan, dan napas kami terengah-engah. Aku tahu, setelah ini, hubungan kami akan berubah drastis, menuju arah yang gelap dan penuh rahasia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *